PP Muslimat NU bersama dengan Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) dan Dinas kesehatan KBB mengajak masyarakat meluruskan pemahaman mengenai penggunaan kental manis agar tidak lagi dijadikan pengganti susu.
Kesalahan persepsi masyarakat yang masih menganggap kental manis sebagai susu dinilai menjadi salah satu tantangan dalam upaya memperbaiki kualitas gizi anak. Di tengah tingginya kasus Stunting dan meningkatnya tren obesitas,
Berdasarkan data, sekitar 67,6% balita di Kabupaten Bandung Barat masih mengonsumsi kental manis sebagai minuman pokok atau pengganti susu murni. Kondisi ini menjadi perhatian karena memengaruhi pola konsumsi dan pemenuhan gizi anak, sehingga terjadi tingginya angka stunting dan meningkatnya kasus obesitas, anggapan keliru tersebut dikhawatirkan mendorong pola konsumsi yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi anak.Melalui edukasi yang digelar di Kabupaten Bandung Barat, pengurus pusat Muslimat NU bersama YAICI dan Dinas kesehatan KBB mengajak masyarakat meluruskan pemahaman mengenai penggunaan kental manis agar tidak lagi dijadikan pengganti susu.
Ketua tim YAICI PP Muslimat NU, Erna Yulia Sofihara, mengatakan pihaknya berkolaborasi dengan YAICI sejak 2016 untuk mengedukasi masyarakat mengenai penggunaan kental manis.”Kalau anak terlalu banyak mengonsumsi gula, otomatis dia cepat kenyang sehingga tidak mau mengonsumsi makanan bergizi lainnya.Kondisi itu dapat menjadi salah satu penyebab gizi buruk maupun Stunting”. Ia menilai edukasi tersebut mendesak dilakukan karena angka Stunting di Kabupaten Bandung Barat masih tergolong tinggi dan berada di atas rata-rata nasional. Padahal pemerintah sebelumnya menargetkan prevalensi Stunting dapat ditekan hingga 14%. Erna menegaskan salah satu akar persoalan adalah kesalahanpahaman yang berlangsung selama bertahun-tahun ketika masyarakat menganggap kental manis sebagai susu.
“Dengan jaringan organisasi hingga tingkat Ranting di seluruh Indonesia, Muslimat NU berharap kader kadernya dapat menjadi ujung tombak edukasi gizi di lingkungan keluarga dan masyarakat ” imbuhnya.
Sekretaris YAICI, Satria Yudhistira mengatakan tingginya kesalahan persepsi masyarakat menjadi alasan edukasi harus dilakukan secara berkelanjutan.
Berdasarkan hasil survei universitas Islam Bandung ( Unisba) sekitar 67,7 % masyarakat Indonesia masih menganggap kental manis sebagai susu. Sementara di Jawa Barat tingkat kesalahan persepsi tersebut mencapai sekitar 24-25 % sehingga menjadi salah satu wilayah prioritas edukasi.
“Kami berharap kader kader Muslimat NU dapat menjadi agen edukasi di keluarga dan lingkungannya sehingga pemahaman yang benar dapat menyebar secara berantai “ujar Satria. Ia menjelaskan persepsi yang keliru mengenai kental manis berlangsung lebih dari 100 tahun. Warna, aroma dan rasanya yang menyerupai susu membuat sebagian orang tua masih menjadikan sebagai minuman utama bagi anak. Padahal hasil riset YAICI menunjukkan anak yang mengonsumsi kental manis secara tidak tepat memiliki indikasi lebih beresiko mengalami over weight , Stunting maupun gizi buruk. “Akan tetapi temuan itu masih memerlukan penelitian longitudinal untuk memastikan hubungan sebab-akibat” katanya.
Di sisi lain, plt Kabid kesehatan Masyarakat dinas kesehatan KBB, Enung Masruroh menegaskan kental manis bukan susu murni karena sekitar 40-60% kandungannya merupakan gula. ” Kental manis tetap dapat dikonsumsi tetapi penggunaannya harus sesuai peruntukan seperti misalnya sebagai pelengkap atau topping makanan, bukan sebagai sumber utama asupan susu bagi anak” katanya. Enung juga mengingatkan bahwa konsumsi gula berlebihan dapat meningkatkan resiko Diabetes serta memicu meningkatnya kasus obesitas pada anak dan remaja.
“Boleh dikonsumsi, tetapi jangan dianggap sebagai susu murni. kalau setiap hari diminum anak sebagai susu, tentu asupan gulanya akan berlebihan. sebaiknya digunakan sebagai sebagai pelengkap makanan, bukan pengganti susu” pungkas Enung.
#YAICI #MuslimatNU #CegahStunting #EdukasiGizi #GiziAnak
#CegahStunting #EdukasiGizi #GiziAnak #KesehatanAnak #YAICI #MuslimatNU #BandungBarat #GenerasiSehat







