Jakarta — Sabtu, 17 Januari 2026, Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama se-Jabodetabek bersama dengan Masjid Istiqlal berkolaborasi dalam peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW, dengan tema “Isra Mi’raj dan Harmoni Semesta.” Kegiatan ini dihadiri lebih dari 6.000 jamaah Muslimat NU dari DKI Jakarta dan sekitarnya.
Acara diawali dengan santunan anak yatim yang dipimpin langsung oleh Ketua Umum Dewan Pembina PP Muslimat NU, Ibu Khofifah Indar Parawansa. Momentum ini menjadi pembuka yang sarat makna, menegaskan komitmen Muslimat NU dalam aksi sosial dan kepedulian terhadap sesama.
Selanjutnya, sambutan disampaikan oleh Menteri Agama RI sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar. Dalam sambutannya, beliau mengangkat makna mendalam peristiwa Isra Mi’raj sebagai perjalanan spiritual yang melampaui logika manusia. Ia menekankan bahwa perjalanan Rasulullah SAW menembus langit hingga Sidratul Muntaha merupakan peristiwa agung demi turunnya perintah shalat sebagai fondasi utama kehidupan umat Islam.
“Isra Mi’raj adalah perjalanan yang melampaui nalar manusia, menembus langit ketujuh, demi turunnya perintah shalat sebagai tiang agama,” tegasnya.
Sambutan berikutnya disampaikan oleh Ketua PP Muslimat NU, Ibu Arifah Choiri Fauzi, yang juga menjabat sebagai Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Ia mengapresiasi antusiasme ribuan jamaah yang hadir sejak subuh dengan berbagai moda transportasi.
“Dari sejak subuh, kereta api dari Bogor ke Jakarta dipenuhi seragam Muslimat. Ada juga yang naik busway hujan-hujanan tetap semangat untuk bisa hadir di sini,” ungkapnya.

Ibu Arifah menegaskan peran strategis Muslimat NU sebagai organisasi perempuan yang bergerak di bidang pendidikan, kesehatan, sosial, dan dakwah sejak berdiri pada 29 Maret 1946. “Muslimat NU adalah organisasi masyarakat sosial keagamaan yang bergerak untuk mewujudkan perempuan dan masyarakat yang berkualitas, mandiri, dan sejahtera,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya momentum Isra Mi’raj sebagai penguat komitmen dalam pemberdayaan perempuan serta perlindungan perempuan dan anak.
“Mari kita jadikan peringatan Isra Mi’raj ini sebagai momentum untuk memperkuat pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak demi Indonesia yang berkeadilan,” tegasnya.
Sambutan berikutnya disampaikan oleh Ibu Khofifah Indar Parawansa selaku Ketua Umum Dewan Pembina PP Muslimat NU. Beliau mengajak seluruh jamaah menjadikan masjid sebagai pusat pergerakan spiritual.


“Mari kita jadikan gerakan kita minal masjid ilal masjid. Pikiran kita minal masjid ilal masjid, hati kita juga minal masjid ilal masjid,” pesannya. Ia juga menekankan kekuatan spiritual perempuan dalam membangun keluarga dan bangsa. “Ibu-ibu ini menunjukkan kecintaan terhadap Muslimat NU dan kecintaan pada masjid,” ungkapnya.
Rangkaian acara ditutup dengan mau‘izhah hasanah dari KH Das’ad Latif. Dalam tausiyahnya, beliau menyampaikan hikmah Isra Mi’raj sekaligus menekankan pentingnya bakti kepada orang tua, terutama kepada ibu.
KH. Das’ad Latif mengisahkan orang tuanya yang hingga kini tak pernah lepas mendoakan beliau dalam setiap perjalanannya, sebagai pengingat bahwa kekuatan terbesar seorang ibu adalah doanya. Di hadapan lebih dari enam ribu jamaah Muslimat NU, beliau menegaskan bahwa doa ibu merupakan senjata spiritual yang mampu mengubah jalan hidup anak-anaknya.
“Ibu itu punya kekuatan luar biasa, dan kekuatan itu adalah doa,” tuturnya. Peringatan Isra Mi’raj ini menjadi momentum refleksi spiritual sekaligus penguatan peran perempuan dalam keluarga, masyarakat, dan bangsa, sejalan dengan tema Harmoni Semesta yang diusung dalam kegiatan tersebut.
____________________
By:Tiem





