Negara Indonesia terdiri dari 17.000 pulau dengan 360 suku bangsa. Provinsi yang terbanyak memiliki pulau adalah Papua Barat dengan 4.514 pulau, Sementara provinsi Kepulauan Riau menempati posisi kedua dengan jumlah pulau 2.025, dan provinsi berikutnya Sulawesi tengah yang mempunyai 1.572. Banyaknya pulau di Indonesia juga diiringi dengan banyaknya bahasa daerah, tradisi budaya, termasuk busana dan kuliner, cita rasa masakan nusantara. Meskipun demikian, bangsa Indonesia tetap Bersatu dengan kondisi keamanan dan ketertiban yang stabil dan terus dijaga. Kondisi damai menjadi pra syarat untuk membangun suatu bangsa. Menurut Anderson (1999) kebesaran jiwa bangsa Indonesia sebagai sebuah bangsa yang majemuk sangat penting bagi kelanjutan bangsa ini. Oleh sebab itu, semangat kebangsaan atau nasionalisme merupakan proyek bersama yang harus diperjuangkan.
Tidak sedikit muncul potensi gerakan yang menyerang kedaulatan dan keutuhan bangsa, baik gerakan yang ingin terpisah dari bangsa Indonesia maupun kelompok yang ingin mendirikan negara baru menggantikan system pemerintahan Indonesia. Bibit-bibit tersebut perlu diwaspadai dan diupayakan dengan gerakan preventif. Penanaman rasa cinta tanah air menjadi bagian penting dalam merawat Indonesia dengan merawat kebhinekaan. Dan lagu Yalal Wathan karya KH. Wahab Chasbullah tersebut menjadi penyemangat untuk menggelorakan rasa cinta tanah air Indonesia.
Dalam sejarah dunia menunjukkan pada abad ke-20 telah terjadi 10 kasus disintegrasi, termasuk Indonesia, yaitu: Korea Utara dan Korea Selatan, Jerman barat dan Jerman Timur, yang pada akhirnya menyatu Kembali, Malaysia dan Singapura, Negara Uni Soviet, Indonesia dan Timor Leste.
Kehidupan yang damai menjadi kekuatan dan anugerah yang patut terus disyukuri, karena peperangan hanya akan membuat manusia dilanda nestapa. Dapat dibayangkan kondisi perang antara Rusia dengan negara Ukraina, dan perang antara Palestina dengan Israel. Kondisi peperangan terebut mengundang keprihatinan kita semua. Dampak perang membuat rakyat mengalami kehancuran dan kesedihan tiada berperi. Nyawa melayang seakan tiada arti, hancurnya kehidupan membuat orang tidak punya harapan hidup lagi. Korban berjatuhan sudah tidak terhitung lagi, anak-anak menangis mencari orang tua yang tidak bertemu Kembali, banyak orang peduli, akan tetapi tidak mampu melakukan aksi. Bantuan kemanusia terus berdatangan tiada henti, akan tetapi sering terhambat oleh pasukan Israel yang berpatroli, memblokir jaringan dan akses menuju tempat-tempat pengungsi. Hanya satu yang tiada pernah berhenti, doa nan tulus kepada Ilahi Tuhan Yang Maha Menguasai, untuk saudara-suadara di Palestina yang berjuang untuk kemerdekaan bangsa yang mereka cintai.
Betapa kita terus bersyukur sebagai bangsa, yang hidup di negara yang aman, damai dan “sejahtera”. Meskipun banyak yang harus diperjuangkan. Berjuang melawan kemiskinan, melawan keterbelakangan, melawan kedhaliman dan perang yang sesungguhnya adalah perang melawan nafsu dalam diri.
Nasionalisme atau kebangsaan bukan sekedar instrumen yang berfungsi sebagai perekat kemajemukan secara eksternal, namun juga merupakan wadah yang menegaskan identitas Indonesia yang bersifat plural dalam berbagai dimensi kulturalnya. (Anggraeni Kusumawardani & Faturochmanm (2014). Nasionalisme menuntut adanya perwujudan nilai-nilai dasar yang berorientasi kepada kepentingan bersama dan menghindarkan segala legalisasi kepentingan pribadi yang merusak tatanan kehidupan Bersama.
(Posted: @Azzah Zumrud)






