muslimatnu.or.id. Banyak hal bisa kita teladani dari sahabat Umar Ibnu Khattab RA. Sosoknya yang tegas dan cerdas menjadikannya pemimpin yang disegani dan dikenal adil. Jasanya tidak hanya dikenang oleh umat Islam saja tetapi juga umat lainnya seperti Yahudi dan Kristen. Walau tegas ,sahabat Umar dikenal sangat peduli terhadap siapapun termasuk umat non muslim.
Banyak kisah tentang sikap toleransi Umar terhadap agama lain. Salah satu kisah termasyhur adalah ketika sorang tua renta yang beragama Yahudi melaporkan nasibnya karena tanahnya diambil paksa untuk pembangunan masjid. Dengan mengambil sepotong tulang Umar memperingatkan Gubernur Syam kala itu agar tidak menyerobot tanah sembarangan.
Sikap yang adil tanpa memandang latar belakang agama juga ditunjukkan ketika membagikan tanah-tanah pertanian di Syiria dan Irak yang telah dibebaskan oleh tentara muslim. Tanah tersebut diberikan kepada para petani kecil tanpa memandang latar belakang agama.
Apa yang dilakukan Umar kemudian ditentang sebagian sahabat. Salah satu diantaranya adalah sahabat Bilal. Namun dengan argumentasi yang matang sahabat Umar mampu memberi pemahaman kepada mereka sehingga mendapatkan dukungan.
Saat menduduki jabatan khalifah, Umar RA membuat beberapa kesepakatan dan perjanjian dengan pemeluk agama lain. Salah satunya adalah perjanjian Aeliya tahun 636 M. Kesepakatan yang lebih dikenal dengan al-Uhda al-Umariyyah adalah perjanjian antara Umar dan orang-orang Kristen di daerah Yerusalem.
Umar juga tidak melakukan pengusiran atau pengambilalihan serta tidak memaksa penduduk Yerusalem (Yahudi dan Kristen) agar memeluk Islam. Umar memberikan kebebasan kepada setiap individu untuk memilih apa yang mereka yakini. Atas dasar tersebut, Umar mendapat banyak pujian dari berbagai kalangan baik dari Umat Islam, Yahudi, dan Kristen.
Sebuah kisah tentang sikap toleran sahabat Umar RA yang bisa kita jadikan hikmah. Ibnu Khaldun dalam kitab tarihknya mengisahkan saat Umar memasuki Baitul Maqdis, ia mendatangi Gereja Qiyamah untuk bertemu pemuka agama Kristen bernama Patriarch Sophronious. Sahabat Umar RA yang hendak mengadakan perjanjian damai serta menyerahkan kunci Yerusalem kepadanya. Ketika waktu salat, Umar bertanya kepada Patriarch tempat untuk salat. Dan Patriarch menunjukkan dan mempersilahkan kepada Umar untuk salat di dalam Gereja.
Namun Umar Ibnu Khattab menolak dan memilih melaksanakan salat di di luar geraja, tepatnya di bagian anak tangga pintu masuk Gereja. Penolakan Umar untuk tidak salat di dalam Gereja bukan karena Umar menganggap Gereja sebagai tempat yang hina, melainkan karena Umar khawatir apabila Ia salat di dalam Gereja, maka umat Islam akan menafsirkan bahwa Gereja Qiyamah boleh ditakhlukkan dan mengubah Gereja itu menjadi Masjid.
Untuk menghormati toleransi yang dilakukan Umar, tempat salat Umar tersebut dibangun sebuah Masjid. Umar berpesan agar jamaah dan pengurus Masjid tersebut tetap saling menghargai dan menghormati antar umat beragama atau singkatnya tetap menjaga, merawat dan menerapkan sikap toleransi.
Dikisahkan pula Umar pernah melewati pintu suatu kaum. Di sana ia mendapati seorang pengemis yang telah tua dan rabun. Umar kemudian menepuk pundaknya dari belakang seraya bertanya: “Dari kalangan ahli kitab mana engkau ini?”
Ia menjawab, “Yahudi.”
Umar bertanya lagi: “Apa yang mendorongmu melakukan seperti apa yang aku saksikan?”
“Aku mencari jizyah, keperluan, dan jalan,” jawab pengemis tersebut.
Kemudian Umar mengambil tangannya dan membawa ke rumahnya, serta diberi sesuatu yang ada di rumahnya. Selanjutnya ia membawa pengernis Yahudi tua itu kepada penanggung jawab baitul mal untuk diberikan bantuan.
“Lihat orang tua ini bersama orang-orang seperti dia. Demi Allah, kita telah berbuat tidak adil bila kita memakan masa mudanya lalu menyia-nyiakannya sesudah ia menjadi tua. Sungguh sedekah itu untuk orang-orang fakir dan miskin. Kakek ini adalah salah satu dari orang-orang miskin ahli kitab,” ujarnya. Wallahu a’lam bish-shawab.
***







