JAKARTA — Tujuh hari berturut-turut setelah wafatnya Ibu Nyai Hj. Machfudhoh Aly Ubaid binti KH. Abdul Wahab Chasbullah, keluarga besar Pimpinan Pusat (PP) Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) menggelar tahlil dan doa bersama dalam 7 hari wafatnya Ibu Nyai secara daring pada Minggu, 11 Oktober 2026. Kegiatan yang berlangsung pukul 19.30–21.30 WIB ini menjadi ruang silaturahmi, penghormatan, sekaligus ikhtiar spiritual untuk mendoakan almarhumah dan mengenang jejak perjuangannya bagi umat, bangsa, dan Nahdlatul Ulama terutama Muslimat NU.
Ratusan ibu-ibu Muslimat NU dari berbagai daerah dari dalam dan luar negri Muslimat NU Cabang Istimewa mengikuti kegiatan secara daring melalui Zoom. Kehadiran para pengurus dan anggota Muslimat NU menunjukkan besarnya rasa kehilangan sekaligus kecintaan terhadap sosok almarhumah yang selama hidupnya menjadi bagian penting dari perjalanan dakwah, pendidikan Islam, dan perjuangan perempuan Nahdliyyin.
Tahlil dan doa bersama ini dihadiri oleh Hj. Khofifah Indar Parawansa selaku Ketua Umum Dewan Pembina PP Muslimat NU dan Hj. Arifatul Choiri Fauzi selaku Ketua PP Muslimat NU. Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk menyatukan doa, mempererat ukhuwah, serta meneguhkan komitmen bersama dalam meneruskan nilai-nilai perjuangan yang telah diwariskan almarhumah.
Mengenang Sosok, Merawat Warisan Keteladanan
Ibu Nyai Hj. Machfudhoh Aly Ubaid bukan sekadar sosok yang dikenang karena kedudukan dan kiprahnya, melainkan juga karena nilai-nilai keteladanan yang melekat dalam perjalanan hidupnya. Sebagai putri KH. Abdul Wahab Chasbullah, salah seorang pendiri Nahdlatul Ulama, almarhumah berada dalam mata rantai tradisi keilmuan, pengabdian, dan perjuangan yang menjadi bagian dari sejarah besar NU.
Kepergian beliau meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, kolega, para santri, serta keluarga besar Muslimat NU. Namun, di tengah rasa kehilangan tersebut, tersimpan kesadaran bahwa perjuangan seseorang tidak berhenti ketika usia telah sampai pada batasnya. Gagasan, nasihat, amal pengabdian, dan keteladanan yang ditinggalkan dapat terus hidup melalui orang-orang yang bersedia merawat dan melanjutkannya.
Dalam rangkaian tahlil dan doa bersama setiap malam sampai malam ke tuju atas wafatnya mengenang almarhumah, berbagai testimoni dari kalangan kolega dan orang-orang terdekat turut mewarnai suasana duka. Kesaksian dan kenangan tersebut menjadi pengingat bahwa setiap pengabdian memiliki jejak, dan setiap keteladanan menyimpan pelajaran yang dapat diteruskan lintas generasi.

“Saya sempat menengok beliau sakit dan saya cerita, saya punya air Sumur Ghars yaitu air yang berasal dari sumur yang merupakan sumur sangat istimewa dan bersejarah. Air Sumur Ghars pernah dipergunakan memandikan jenazah Nabi Muhammad SAW. Sumur itu persisnya berada di bawah bangunan beratap di samping Ma’had Darul Hijrah. Bahkan Rasulullah SAW pernah minum airnya, dan berwasiat agar setelah wafatnya, jasadnya dimandikan dengan air sumur tersebut” Imbuh Gubernur Jawa Timur Ibu Khofifah.


“Suatu ketika Rasulullah SAW pernah bersabda seperti diriwayatkan Ibnu Majah bahwa jika beliau meninggal minta agar dimandikan dengan tujuh geriba dari air sumur beliau, sumur Ghars. Pesan tersebut dipenuhi sahabat, saat Rasulullah SAW wafat lantas dimandikan dengan air dari Sumur Ghars. Nabi Muhammad SAW sendiri wafat pada tahun 11 hijriah. Meski pemakamannya di rumah Siti Aisyah yang kini menjadi Masjid Nabawi, namun air yang digunakan mengambil dari Sumur Ghars sesuai wasiat beliau.” Karena bu Nyai Machfudhoh saya sudah matur dan beliau berkenan dan atas izin dzuriyyah beliau kita usapkan air ke muka jenazah beliau, subhanallah. Dan Syech Fadhil juga ziyarah dan hormat serta membacakan doa panjang dan shalawat Burdah, ketika ditanya syech menjawab karena almarhumah Bu Nyai Machfudhoh ahli shalawat ahli ibadah dan senang shalawat Burdah, maka kita baca banyak shalawat Burdah”, imbuh cerita Ketua Umum Dewan Pembina PP Muslimat NU Ibu Hj. Khofifah.
Berhenti Usia, Bukan Berhenti Perjuangan
Kenangan tentang almarhumah tidak semestinya berhenti sebagai ungkapan kehilangan. Lebih dari itu, kenangan tersebut perlu menjadi sumber inspirasi untuk menghidupkan kembali nilai-nilai kebaikan yang selama ini diperjuangkan: keikhlasan dalam mengabdi, keteguhan dalam berjuang, keluasan dalam berdakwah, serta kepedulian terhadap sesama.
“Beliau bukan hanya pesan, nasehat tetapi beliau melakukan apa yang dipesankan, beliau ahli shalawatan, ahli ibadah, mulia. Sangat mengayomi, benar menjadi jimat Muslimat NU dan Presiden pun menyatakan bu Nyai Machfudhoh adalah jimatnya NU, jimatnya bangsa dan khususnya untuk Muslimat NU” Testimoni dan sambutan Ketua PP Muslimat NU, Mentri KKPA RI, Hj. Arifah Chori Fauzi, dalam testimoninya disampaikan dengan penuh kenangan baik kepada almaghfurlaha ibu Nyai Machfudhoh Aly Ubaid.
Bagi keluarga besar Muslimat NU, wafatnya Ibu Nyai Machfudhoh Aly Ubaid merupakan kehilangan seorang tokoh sekaligus momentum refleksi. Perjalanan hidup beliau mengingatkan bahwa perjuangan tidak semata-mata diukur dari lamanya seseorang hadir, tetapi juga dari nilai yang ditanamkan dan manfaat yang terus dirasakan setelah kepergiannya.
Usia boleh berhenti, tetapi perjuangan tidak boleh terhenti. Kalimat ini menjadi pengingat bagi seluruh keluarga besar Muslimat NU untuk melanjutkan estafet pengabdian dengan menjadikan ajaran, nasihat, dan uswah keteladanan almarhumah sebagai sumber inspirasi.
Meneruskan perjuangan bukan berarti sekadar mengulang apa yang telah dilakukan generasi terdahulu. Perjuangan juga menuntut keberanian untuk menerjemahkan nilai-nilai luhur ke dalam tantangan zaman, memperkuat pendidikan dan dakwah perempuan, membangun kepedulian sosial, serta menjaga tradisi Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Bagi Muslimat NU, warisan keteladanan tersebut merupakan amanah bersama. Setiap pengurus, kader, dan anggota memiliki ruang untuk mengambil bagian, sesuai kemampuan dan perannya masing-masing. Dengan demikian, doa yang dipanjatkan untuk almarhumah tidak hanya menjadi ungkapan kasih dan penghormatan, tetapi juga penguat tekad untuk meneruskan amal kebaikan.
Doa Menyatukan Hati, Keteladanan Menggerakkan Langkah
Penyelenggaraan tahlil dan doa bersama secara daring memperlihatkan bahwa jarak tidak menjadi penghalang bagi keluarga besar Muslimat NU untuk bersatu dalam doa. Dari berbagai tempat, para peserta menyatukan hati, membaca kalimat-kalimat thayyibah, membaca Yasin Tahlil, memanjatkan doa, dan menghadirkan kembali kenangan tentang sosok yang telah memberikan makna dalam perjalanan ibu-ibu di PP, PW,PC, PAC, semua mengenang kebaikan almarhumah.
Momentum tujuh hari ini sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya menjaga tradisi doa, silaturahmi, dan penghormatan kepada mereka yang telah mendahului. Di tengah suasana duka, kebersamaan tersebut menghadirkan kekuatan spiritual dan meneguhkan bahwa ikatan perjuangan tidak terputus oleh perpisahan.
PP Muslimat NU mengajak seluruh pengurus dan kader untuk menjadikan momentum ini sebagai titik tolak memperkuat komitmen organisasi. Keteladanan almarhumah perlu terus diperkenalkan kepada generasi muda, nilai-nilai perjuangannya perlu dipelajari, dan semangat pengabdiannya perlu diwujudkan dalam kerja nyata yang membawa kemaslahatan bagi umat. Sebab, penghormatan yang paling bermakna kepada seorang tokoh bukan hanya dengan mengenang namanya, melainkan juga dengan meneruskan kebaikan yang telah ditanamkannya.
Selamat jalan, Ibu Nyai Hj. Machfudhoh Aly Ubaid. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah dan pengabdian almarhumah, mengampuni segala khilafnya, melapangkan alam kuburnya, menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya, serta mempertemukannya dengan para shalihin dan shalihat. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan. Semoga keluarga besar Muslimat NU senantiasa diberi kemampuan untuk merawat warisan perjuangan beliau, melanjutkan estafet pengabdian, dan menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi umat, bangsa, dan agama.
Al-Fatihah.




