Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari adalah tokoh penting dalam pendirian organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Bukti sejarah menunjukkan bahwa NU lahir setelah “diistikharahi” dan “ditirakati” oleh Hadratussyaikh sehingga tetap eksis kehadirannya di Indonesia dan menjadi organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di dunia. Hadratussyaikh mendapatkan posisi istimewa dalam struktur organisasi NU, yaitu sebagai Rois Akbar. Hanya Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari yang pertama dan satu-satunya pengurus yang menduduki jabatan tersebut, karena setelahnya dalam struktur organisasi NU hanya ada jabatan Rois ‘Am. “Hadratussyaikh” adalah gelar khusus bagi KH. M. Hasyim Asy’ari yang dapat diartikan dengan “Maha Guru”. Muhammad Anang Firdaus, dkk (2023) mengutip pendapat Sayyid Ammar Azmi Arafati al Hasani, Imam Besar Masjid al Aqsha, menjelaskan bahwa untuk mencapai gelar Hadratussyaikh syaratnya harus menguasai ilmi agama secara mendalam dan menghafal enam kitab hadits yang paling otoritatif (Kutub al-Sittah).. Gelar khusus diberikan kepada para ulama yang paling berpengaruh, seperti Imam al-Ghazali dengan gelar “Hujjatul Islam”, Syaikh Abdul Qadir al-Jailani dengan gelar “Sulthanul Auliya’”, Syaikh Nawawi al-Bantani bergelar “Sayyid Ulama Hijaz”. Dengan belajar tentang sejarah, pemikiran, kehidupan dan perjuangan Hadratussyaikh diharapkan akan menginspirasi dan menjadi ferensi (rujukan ilmu pengetahuan)
Perjalanan pendidikan KH. Hasyim dimulai dari pendidikan di keluarga, kemudian mengembara di banyak pesanten, baru melanjutkan studi di Arab Saudi. Saat belajar di luar negeri (Tanah Suci) KH. Hasyim berguru kepada para ulama besar dan berteman dengan orang yang berasal dari berbagai negara serta sahabat-sahabat dari Indonesia. Saat Kembali ke Tanah Air mereka menjadi tokoh hebat yang bersama berjuang untuk kemerdekaan dan kemaslahatan umat. Pengalaman belajar tersebut membuat pemikiran KH. Hasyim semakin cerdas dan wawasan menjadi luas.
Setting social budaya kehidupan Hadratussyaikh adalam zaman penjajahan Belanda dan Jepang. Umat Islam bangkit melawan penjajah. Muncul kesadaran baru untuk berjuang menghadapi penjajahan. Kondisi demikian merupakan peristiwa yang terjadi di beberapa negara berpenduduk Islam, menjadi isu yang hangat dalam dunia Islam. Terjadi pergeseran pula dalam kajian keilmuan Islam secara global. Setting nasionalisme memiliki karakter cinta tanah air. Memberi kontribusi menaikkan semangat perjuangan. Dan semangat juang mempertahankan kemerdekaan tanah air inilah yang kemudian melahirkan “Relolusi Jihad”. KH Hasyim adalah ulama besar, indikatornya tidak hanya diketahui dari santri-santri yang mengaji kepada beliau, akan tetapi juga dapat dilihat dari karya tulis berupa 27 kitab. Informasi baru adalah, KH. Hasyim Asy’ari selain menulis kitab, juga seorang kolumnis di beberapa majalah: “Majalah Nahdlatoel Oelama”, “Panji Masyarakat” dan “Swara Nahdlatoel Oelama”. Satu karya yang menjadi dasar organisasi NU adalah “Muqaddimah al Qanun al-Asasy li Jam’iyyah Nahdlatul Ulama’”: semacam Pembukaan Undang-Undang Dasar (landasan pokok) NU. NU didesain oleh Kyai Hasyim sebagai jam’iyah yang bersifat inklusif. Organisasi dengan jumlah anggota dan jamaah terbesar di dunia tersebut sangat terbuka bagi semua golongan yang ingin masuk dan berkhidmah. NU diharapkan menjadi wadah pemersatu umat Islam di kemudian hari. Selain itu, Hadratussyaikh mencita-citakan NU dapat berkontribusi dalam menciptakan perdamaian di Indonesia.
Pemikiran, sejarah, dan kehidupan Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari sudah banyak ditulis dan publikasikan, baik dalam bentuk buku, artikel, penelitian tugas akhir (skripsi, tesis dan disertasi) maupun dalam tulisan lepas. Bahkan perjuangannya sudah didokumentasikan dalam film dengan judul “Sang Kyai”. Apabila nama KH Hasyim Asy’ari dicari dmelalui google search engine, maka hasilnya sekitar 1.960.000 dalam 0,32 detik. Dari berbagai tulisan dan karya-karya tentang KH. Hasyim Asy’ari, buku dengan judul “Hadratussyaikh KH.M. Hasyim Asy’ari: Pemersatu Umat Islam Indonesia (Percikan Pemikiran Reflektif Socio Religious KH. Abdul Hakim Mahfudz)” adalah karya yang lengkap tapi tidak terlalu tebal, dinarasikan dengan bahasa yang lugas namun sangat ilmiah, banyak kisah dan informasi baru yang sebelumnya belum diekspos dituliskan secara logis dan systematis, dan kontekstual penjelasannya. Boleh dikatakan “sekilas membaca langsung terkesan”.
Pemikiran KH. Hasyim masih relevan untuk dibahas dan dapat dijadikan sebagai “mainstream”, oleh karena banyak karakter yang dibangun dan sarat dengan pesanpesan akademik. Contoh: Penguasa peradaban adalah ilmu. Hendaknya segera mempergunakan masa muda dan umur untuk memperoleh ilmu, tanpa terpedaya oleh rayuan “menunda-nunda” dan “berangan-angan Panjang”, sebab setiap detik yang terlewatkan dari umur tidak akan tergantikan”. Pesan Hadratussyaikh sangat relevan untuk saat sekarang khususnya kaum milenial dan generasi Z, serta generasi Alpha yang sebagian aktifitasnya ada dalam dunia virtual. Pembahasan tentang ilmu menjadi prioritas. Dengan ilmu akan berkembang semua potensi diri manusia. Jika semua potensi berkembang dengan baik dan optimal, maka Bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang mampu hidup mandiri serta bermartabat.

Ajaran dan pesan-pesan moral Hadratussyaikh KH.M. Hasyim Asy’ari sangat dibutuhkan oleh generasi penerus perjuangan NU.
Muslimat NU sebagai organisasi perempuan di bawah Nahdlatul Ulama telah melakukan berbagai program guna mewujudkan masyarakat sejahtera berkuaitas, dijiwai ajaran Ahlusunnah wal Jama’ah dan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diridhai Allah SWT, salah satunya dengan melakukan diseminasi pemikiran, menyebarluaskan pemikiran Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari kepada pengurus dan anggota dalam kegiatan Bedah Buku.
Hasil dari roadshow bedah buku merekomendasikan bahwa perlu terus dilakukan reaktualiasi pemikiran dan gagasan Hadratussyaikh, merekontruksi nilai-nilai perjuangan yang sarat dengan karakter mulia, dan mengkontekkan pemikiran dan pengalaman kehidupan Hadratussyaikh dalam kehidupan saat sekarang dan menjadi pijakan dalam menatap masa depan dengan penuh optimisme. Bandung, 05 Januari 2025).
By : @Azzah Zumrud







