Islam agama yang menjunjung tinggi kedamaian dan keselamatan sesama. Hal itu tercermin dalam setiap ajarannya. Mulai dari bermuamalah dengan Allah atau hablun minallah, hingga bermuamalah dengan sesama atau hablun minannas. Keserasian aiau tawazun keseimbangan menjadi hal penting dalam ajaran agama Islam, bagaimana Islam mengajarkan untuk seimbang antara kehidupan duniawi dan ukhrowi walaupun kehidupan akherat yang abadi selama-lamanya, mencari kebaikan dan keselamatan akherat melalui kehidupan dunia.
Islam sebagai agama yang menegakkan kedamaian dan keselamatan sesama, sekaligus menunjukkan praktik-praktik amaliah muamalah dan amaliah yang sarat dengan nilai-nilai kedamaian dan keselamatan. Maka kita diperintahkan untuk masuk Islam dengan Kaaffah , syumul keseluruhan totalitas sesuai nash dalam al-quran يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱدْخُلُواْ فِى ٱلسِّلْمِ كَآفَّةً وَلَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَٰنِ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ
Sekanjutnya Islam merupakan agama yang mengajarkan monoteisme tauhid yang harus diwujudkan dalam bentuk kepasrahan diri dan ketaatan kepada Allah semata dan rasul-Nya selaku utusan yang membawa rahmat ke seluruh alam untuk meraih kebahagiaan dan keselamatan dunia dan akhirat. Namun, kebahagiaan itu tidak akan terwujud tanpa kedamaian dan ketenteraman serta kasih sayang di antara sesama. Intinya, melalui misi kedamaian serta kasih sayang, risalah Islam diturunkan ke seluruh alam.
Dalam muamalah dengan Allah atau yang disebut dengan hablun minallah, misalnya, kita diperintah dzikir kepada Allah, yang salah satu tujuannya menciptakan jiwa yang damai dan tenang, sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Quran surah ar-Ra’du ayat 28. Kemudian, ketika menunaikan shalat, kita diwajibkan sambil tuma’ninah dalam melaksanakannya alias tenang tidak terburu-buru. Di akhir shalat, kita juga diperintah untuk mengucap salam yang maknanya tak lain adalah kedamaian dan keselamatan.
Diakhirat kelak, yang akan dipanggil oleh Allah masuk surga tak lain adalah hamba Allah yang jiwa-jiwanya penuh dengan ketenangan dan kedamaian, sebagaimana yang disebutkan dalam surah Al-Fajri ayat 27-30 berikut :
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً
Artinya: “Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha lagi diridhai-Nya,” QS. Al-Fajr [89]: 27-30).
By: @Azzah Zumrud (A-Zhoem)







