Yogyakarta — Momentum Hari Lahir (Harlah) ke-80 Muslimat Nahdlatul Ulama (MNU) menjadi panggung strategis bagi organisasi perempuan terbesar di Indonesia ini untuk menyuarakan pesan perdamaian dunia. Perayaan yang digelar di Yogyakarta di Hall UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Minggu (12/4/2026) tersebut dirangkaikan dengan Halal Bihalal Keluarga Besar Muslimat NU serta berbagai agenda strategis organisasi yang sarat makna spiritual dan sosial.

Acara diawali dengan istighosah bersama, memanjatkan doa untuk keselamatan bangsa dan perdamaian dunia, sekaligus memperkuat dimensi spiritual dalam peringatan Harlah ke-80 ini. Menjadi tradisi baik ibu Ketua Umum Umum PP Muslimat NU Ibu Khofifah dengan santunan kepada anak yatim piatu sebagai bentuk kepedulian sosial Muslimat NU terhadap sesama, khususnya mereka yang membutuhkan perhatian dan kasih sayang.
Sebagai bentuk apresiasi terhadap dedikasi para kader dan tokoh, panitia juga memberikan anugerah kepada tokoh penggerak PAUD serta tokoh Muslimat NU Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang telah berkontribusi nyata dalam penguatan pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat. Pemberian penghargaan ini menjadi simbol penghormatan atas kerja-kerja nyata yang selama ini dilakukan di akar rumput.
Dalam suasana penuh kekhidmatan dan semangat kebersamaan, Muslimat NU menegaskan komitmennya sebagai kekuatan moral dan sosial dengan mengirimkan surat resmi kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Surat tersebut berisi seruan tegas untuk menghentikan berbagai konflik dan peperangan yang masih terjadi di sejumlah wilayah dunia, serta mendorong upaya perdamaian yang berkeadilan dan berkelanjutan.
Ketua Umum Dewan Pembina PP Muslimat NU, Hj. Khofifah Indar Parawansa, dalam sambutannya menegaskan bahwa peran perempuan, khususnya Muslimat NU, sangat penting dalam merawat perdamaian dunia. “Perempuan adalah penjaga peradaban. Dari rahim perempuan lahir generasi masa depan. Karena itu, kami tidak bisa tinggal diam melihat konflik dan kekerasan yang terus terjadi. Muslimat NU menyerukan perdamaian sebagai panggilan kemanusiaan dan keimanan,” tegasnya.

Mengusung tema “Merawat Tradisi, Menguatkan Kemandirian, dan Meneduhkan Peradaban”, Harlah ke-80 Muslimat NU tidak hanya menjadi ajang refleksi perjalanan panjang organisasi, tetapi juga momentum memperkuat peran perempuan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam membangun tatanan dunia yang damai.
Panitia Harlah ke-80 dan Halal Bihalal PP Muslimat NU menyampaikan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai ruang konsolidasi organisasi sekaligus penguatan nilai-nilai keislaman yang rahmatan lil ‘alamin. Selain pengiriman surat kepada PBB, rangkaian kegiatan juga meliputi inaugurasi paralegal Muslimat NU, penguatan kapasitas kader, serta silaturahmi nasional antar pengurus dan anggota.
“Kami ingin Harlah ke-80 ini tidak sekadar seremonial, tetapi benar-benar memberikan kontribusi nyata, baik bagi penguatan internal organisasi maupun bagi isu-isu global seperti perdamaian dunia,” ujar Ketua Panitia.
Lebih lanjut, Muslimat NU menegaskan bahwa upaya menjaga perdamaian tidak hanya menjadi tanggung jawab negara atau lembaga internasional, tetapi juga seluruh elemen masyarakat, termasuk organisasi perempuan. Dengan jaringan yang luas hingga tingkat akar rumput, Muslimat NU optimistis dapat terus menjadi pelopor dalam menyebarkan nilai-nilai moderasi, toleransi, dan harmoni sosial.
Perayaan Harlah ke-80 ini diharapkan menjadi tonggak penting bagi Muslimat NU untuk semakin memperkuat kiprahnya, baik di tingkat nasional maupun global, sebagai organisasi perempuan yang berperan aktif dalam meneduhkan peradaban dan memperjuangkan perdamaian dunia.






