Ibu Hajjah Chodijah Djumali termasuk perempuan Indonesia pertama yang menempuh kuliah di Univeritas al Azhar Mesir. Chodijah Djumali adalah salah satu perempuan aktifis Muslimat NU yang mumpuni. Dalam struktur organisasi tercatat pernah menjadi Ketua Bidang Dakwah PP Muslimat NU dan ketua HIDMAT Muslimat NU Pusat.
Perempuan luar biasa ini termasuk generasi pertama wanita Indonesia yang mengenyam pendidikan formal di Universitas Al-Azhar Kairo Mesir tahun1964. Padahal waktu itu universitas terkemuka di Mesir ini mahasiswanya masih mayoritas terbatas kaum laki-laki saja khususnya mahasiswa asing.
Chodijah dilahirkan di sebuah dusun di Yogyakarta, tepatnya dusun Pokoh Banyurejo Tempel Sleman Yogyakarta 2 Agustus 1942. Ia merupakan anak dari pasangan KH Djumali (tokoh NU di Kabupaten Sleman) dan ibu kandungnya Siti Muhsinah yang berasal dari Jonggrangan Sleman Yogyakarta, satu saudara kandung Chodijah Djumali adalah adik Chodijah bernama Romlah Djumali (yang pada masanya juga berjuang di Muslimat NU Kabupaten Sleman).
Riwayat pendidikan agama Chodijah dimulai di Madrasah Mabdaul Huda tahun 1949 di Kemusuh Tempel Sleman yang merupakan milik ayahnya sendiri yaitu K.H. Djumali. Selanjutnya menempuh pendidikan di pesantren Al Munawir Krapyak bersama adiknya Romlah. Di bawah bimbingan K. Abdul Qodir Munawir, Chodijah dan adiknya masuk Pondok Pesantren Putri Krapyak (PPPK). Tercatat pula Chodijah pernah menjadi murid di Muallimat (1955-1961) di Ngampilan 15 Yogyakarta. Pada tahun 1961, Chodijah melanjutkan pendidikan tinggi di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Di sana dia mendapatkan gelar Sarjana Muda. Sejak Muallimat dan selama masa kuliah, Chodijah aktif dalam organisasi Ikatan Pelajar Putra Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Cabang Yogyakarta.
Keberuntungan menaungi Chodijah Djumali bersama enam perempuan Indonesia. Ia mendapat undangan khusus sehingga diterima untuk kuliah di Al-Azhar Kairo Mesir. Chodijah yang saat itu sudah menyelesaikan program Sarjana Muda (BA) di IAIN Sunan Kaljaga Yogyakarta, termasuk salah satu mahasiswi yang terpilih.
Aktif di Muslimat NU
Keaktifan di organisasi Ikatan Pelajar Putra Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Cabang Yogyakarta inilah yang menjadi salah satu faktor ia bisa diterima di Universitas Al Azhar pada momentum membuka program pendidikan untuk mahasiswa perempuan untuk pertama kalinya. Chodijah bersama 6 (enam) perempuan pertama lainnya yaitu Masringah dari Demak, Masjida Lubis dari Medan, Nur Faris dari Jakarta dan Muzainah terpilih untuk kuliah di Mesir.
Pada tahun 1972, Chodijah pulang ke Indonesia. Ia kemudian mengikuti suaminya dan tinggal di Peduranan Masjid Karet Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan. Chodijah sempat bekerja di Kampus IAIN Sunan kalijaga Yogyakarta sebagai dosen luar biasa. Namun karena secara kendala teknis yaitu pulang pergi Jakarta-Yogyakarta maka dia memutuskan untuk tidak melanjutkan pekerjaanya sebagai dosen.
Setelah tidak menjadi dosen, Chodijah mulai mengajar agama di Madrasah Muallimin setingkat Tsanawiyah/Aliyah pada Yayasan Rumah Pendidikan Islam (RPI) yang kala itu dipimpin KH. Abdus Syakur Chairy di bilangan Kuningan.
Kegiatan mengajar di madrasah Muallimin ini berjalan di siang/sore hari. Selain itu Chodijah juga mengajar membaca Al-Quran, Fiqih, Ibadah, Akhlaq, dan Qashidah di rumah sendiri dalam bentuk pengajian putri dan kaum ibu. Kegiatan ini umumnya dijalankan pada malam hari.
Awalnya KH. Abdus Syakur Chairy (wafat 1974) pada tahun yang sama Hj. Chodijah Djumali mendapat mandat untuk menjadi pengganti mengurusi Majelis Taklimnya, mulailah sejarah awal majelis taklim kaum ibu model pembelajaran dengan menggunakan kitab-kitab kuning baik berbahasa Arab ataupun dalam bentuk Arab pegon, majelis taklim bukan sekedar majelis dzikir semata.
Selanjutnya, untuk memajukan pendidikan umat, Chodijah mendirikan lembaga pendidikan madrasah, langkah pertama yang dikerjakan adalah melakukan pemberantasan buta huruf pada masyarakat. Satu hal yang menarik dari fenomena masyarakat wanita di Jakarta di awal tahun 70-an adalah masih sedikitnya kaum ibu dan perempuan yang bisa membaca dan menulis. Oleh karena itu, salah satu terobosan yang pernah dijalankan adalah membuka kelas pelajaran membaca dan menulis, baik huruf Arab atau pun huruf latin. Maka dibukalah program Pemberantasan Buta Huruf (PBH) dan pemberantasan Buta Huruf Arab (PBHA).
Pada tahun 1976, ia merintis lembaga pendidikan madrasah formal di rumahnya yang diberi nama perguruan Darul Ulum. Madrasah itu mulai dibuka pada tanggal 1 Mei 1976. Bersama-sama dengan masyarakat sekitar, Chodijah dibantu suaminya menyelenggarakan pendidikan untuk masyarakat sejak paling dini yaitu Taman Kanak-kanak, yang diteruskan ke jenjang berikutnya, yaitu Madrasah Ibtidaiyah. Kemudian pada tahun 1982 membuka Madrasah Tsanawiyah untuk kelanjutan lulusan dari Madrasah Ibditaiyah. Dilanjutkan tahun 1985 membuka Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA), yang kini berubah nama menjadi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).
Selain mengelola pendidikan formal, Chodijah juga aktif di Muslimat Nahdlatul Ulama (MNU) Pusat. Di dalam kepengurusan Muslimat, dia selalu ada di Bidang Dakwah. Ketika Muslimat menggagas badan otonom Muslimat NU berbadan hukum yaitu Himpunan Daiyah dan Majelis Taklim Muslimat NU (HIDMAT MNU). Dra.Hj.Chodijah Djumali,Lc.MA menjadi Ketua lembaga otonom HIDMAT MNU Pusat ini.
Salah satu terobosannya di bidang dakwah antara lain membuat buku saku praktis untuk jama’ah sehingga mudah dipahami dan menjadi acuan materi di majelis-majelis taklim binaan. Buku saku itu antara lain buku tuntunan ibadah sholat sunnah, tuntunan solat sunah Tasbih,tuntunan Wirid doa dan Tahlil, Istighosah, Panduan Pengajian Remaja, terjemah pegon kitab fiqh Fathul Qarib (Takrib), Nasho’ihul Ibad, dan ‘Aqidatul Awam. Ada beberapa buku yang ditulis Chodijah antara lain buku Sejarah Fatayat NU tahun 1982.
Keaktifan Chodijah yang berhubungan dengan umat, suatu ketika banyak jamaahnya yang memintanya untuk mendirikan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH). Harapan itupun dipenuhi dengan mendirikan KBIH dibawah payung hukum yayasan yang didirikannya, yayasan Darul Ulum dan terintegrasi dengan Muslimat NU. Maka jadilah KBIH Darul Ulum. Karena aktifitas barunya ini, Chodijah sudah memberangkatkan haji sebanyak 9 kali.
Kepiawaian Chodijah dalam memberikan ceramah keagamaan dan luasnya pergaulan sehingga oleh Kementerian Agama Chodijah dipercaya untuk ikut mengelola Badan Penasihatan Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan (BP4) dan berkantor di Masjid Istiqlal Ruang 66 Jakarta. Di lembaga ini tugasnya antara lain memberikan nasehat-nasehat kepada rumah tangga dan suami istri yang sedang bermasalah.
Sebagai pendidik, keinginan untuk menambah ilmu masih dilakukan Chodijah. Salah satunya, di usia yang telah lanjut beliau meneruskan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi dengan kuliah program Pasca Sarjana di Institut Ilmu Al-Quran (IIQ) Jakarta, dan terdaftar sebagai angkatan pertama pada awal tahun 2000. Dua tahun kemudian meraih gelar Magister dengan tesis “Wanita Karir Dalam Perspektif Al-Quran” dengan nilai Cum Laude.
Mulai tahun 2001, Chodijah kesehatannya menurun. Sejak itu, mengingat dia harus menjaga kesehatan maka aktifitas sosial mulai dikurangi. Namun Chodijah masih terus berusaha melayani umat seperti berceramah dan menyelesaikan kuliah S-2 nya.
Selesai menikahkan putra ke-4 (mantu terakhir) di Ponorogo,setelah pulang dari Ponorogo, Chodijah dipanggil pulang oleh Sang Pemilik dengan tenang untuk selama-lamanya pada 17 Januari 2006. Allah Yarhamha, Laha Alfaatihah. (Azzah Zumrud Muallif)







